23 September, 2015

(Katanya) Cuma Debat


Adalah pilihan kalian untuk menganggap dan melibatkan aku atau tidak. Utamanya setelah semua proses ini. Yang jelas aku bahagia pernah nyangkut di proses kalian; disadari atau tidak.
Mungkin aku memang tak selalu ada di setiap fase yang kalian lewati. Kalian, yang awalnya tak bisa apa-apa hingga jadi sejauh ini. Aku memperhatikan. Meski aku juga tahu memperhatikan dari jauh saja tak cukup. Apalagi kemudian aku hanya hadir di saat pembuktian itu. Bahkan tanpa apa-apa. Selain sedikit usaha dan doa tentu saja. Hanya tersebut yang bisa aku berikan. Hanya. Sementara pencapaian kalian yang setinggi itu, aku rasa terlalu berlebihan jika itu untukku. Itu adalah prestasi kalian, sedang aku hanya turut berbangga tanpa berkontribusi apa-apa. Aku bahkan yang berterima kasih atas suasana nostalgik yang kalian bawa. Atmosfernya, bahagianya, marahnya, teriakannya, anjirnya, dan SISANYA.

Aku sudah berkali-kali melewati proses perlombaan debat itu. Dari awal, saat, akhir dan setelahnya. Satu hal yang membuatku kecewa adalah kalian atau mereka tak pernah bisa menjaga api semangat itu untuk waktu yang lebih lama. Kalian, yang baru kali ini merasakan gempita perlombaan ini tahun ini, memnyampaikan padaku tentang harapan, target, dan upaya kalian untuk debat-debat lain dengan begitu semangatnya. Sementara aku yang mendengarnya tak bisa banyak berkomentar. Sebab aku pesimis. Aku pernah dijanjikan hal yang sama pada tahun-tahun sebelumnya. Dengan semangat yang sama membaranya. Dengan mata yang sama berkilatnya. Dengan api yang sama besarnya. Sama persis. Tapi tak ada satupun yang tersisa. Mereka, yang pada tahun sebelumnya pernah seperti kalian, hanya paham euforianya. Dan memang betul, janji di tengah hingar bingar tak akan pernah tertepati. Hingga kini. Akan tetapi tak adil rasanya jika hanya memprediksi berdasarkan kesamaan kondisi. Sehingga teruntuk kalian, aku masih mau menunggu janji-janji yang akan tertepati.

Sejujurnya aku pun menghargai pilihan kalian atau mereka untuk meneruskan atau menghentikan gairah debat pasca perlombaan itu. Untuk berpikir kritis tak haruslah lewat debat. Aku setuju. Aku pun senang melihat kalian atau mereka mengembangkan diri di jalur yang lain. Hanya saja, aku menyayangkan perasaan dan kebersamaan yang ditinggalkan setelahnya. Dari yang awalnya bertemu tiap hari, kemudian tidak. Dari yang awalnya bantah-bantahan tiap bertemu, kemudian tidak. Dari yang awalny dimarahi setiap saat, kemudian tidak. Lalu "kemudian tidak" itu berkulminasi menjadi biasa saja. Biasa untuk tidak.
Euforia dan gempita tak akan bertahan lama. Karena realitas ternyata datar saja. Hingga kita dibuat terbiasa dengan hal itu. Bahkan terbiasa dengan ketiadaan. Mungkin lebih baik tak pernah ada lomba debat itu. Sebab sisanya selalu menyedihkan. Bagiku.
- QT\/QU-
(230915, 11:11 pm)
Amelia Putri Rizqiani Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment