04 August, 2015

Makan Bijak Selamatkan Lingkungan



Penduduk cenderung tumbuh seperti deret ukur (1, 2, 4, 8….), sementara persediaan makanan tumbuh seperti deret hitung (1, 2, 3) – Malthus.
Isu yang benar-benar menjadi perhatian dunia internasional saat ini adalah ketersediaan bahan pangan. Seperti yang penah dikatakan oleh Malthus di tahun 1798, manusia-manusia modern akan mengalami kesulitan bahan makanan. Padahal pangan merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh setiap manusia. Hal tersebut diperburuk oleh kondisi lingkungan kita yang semakin hari semakin rusak tak terkendali. Ketersediaan pangan ditakutkan tidak dapat memenuhi kebutuhan manusia akan pangan. Ironisnya, sebagian besar masyarakat dunia seringkali melakukan pemborosan makanan. Banyak sekali makanan yang tidak termakan atau terbuang sia-sia.

Kita lihat pada diri kita sendiri. Seringkali kita tidak menghabiskan makanan yang ada di piring kita. Kadang dengan alasan kenyang, nasi menjadi terbuang percuma. Atau karena terlalu pilih-pilih makanan, beberapa item makanan disingkirkan dan dibuang. Padahal, untuk menumbuhkan satu keping nasi yang dibuang itu membutuhkan waktu yang lama. Masa pertumbuhan padi dari bibit hingga siap panen lebih dari tiga bulan lamanya. Sementara kita bisa membuang jutaan padi hanya dalam waktu beberapa menit. Bila hal tersebut terus berlanjut, maka bukan tidak mungkin di masa depan kita akan kesulitan mencari bahan pangan. Hitung saja berapa banyak padi yang dihasilkan dan berapa banyak nasi yang dibuang dalam kurun waktu yang sama.  Tentu saja tidak sebanding. Nasi yang dibuang jauh lebih banyak daripada beras yang dihasilkan.

United Nations Environment Programme sebagai sebuah badan PBB yang berfokus pada isu lingkungan, mengajak masyarakat dunia untuk makan secara bijaksana dan menghindari pemborosan makanan. Pemborosan makanan juga berarti pemborosan uang. Meskipun begitu, dampak dari pemborosan makanan bukan hanya masalah ekonomi, namun yang paling penting adalah persoalan lingkungan. Produksi dari makanan – yang pada akhirnya banyak terbuang – bukan hanya membutuhkan banyak waktu, namun juga sumber daya. Untuk menghasilkan 1 liter susu, seekor sapi membutuhkan 1000 liter air. Begitupun untuk membuat sebuah hamburger diperlukan 16 kg rumput sebagai makanannya. Sumber daya alam yang sebesar itu nyatanya banyak terbuang percuma. Hanya karena masyarakat tidak bijak dalam mengkonsumsi makanannya.

Dalam rangka meningkatkan produksi seringkali digunakanlah bahan-bahan kimia. Penggunaan pestisida, pupuk, dan juga rumah kaca jadi semakin meningkat seiring meningkatnya pula permintaan bahan pangan. Padahal kita tahu bahwa gas-gas yang dihasilkan oleh zat kimia tersebut dapat merusak lingkungan. Bayangkan bila kita banyak membuang makan, produsen bahan pangan semakin meningkatkan produksinya dengan zat kimia, maka atmosfer kita ini juga semakin penuh dengan polusi. Ditambah polusi yang ditimbulkan oleh truk-truk pengangkut bahan pangan yang mondar mandir mengantarkan produknya setiap hari. Selain itu, limbah dari makanan yang terbuang berdampak buruk bagi lingkungan. Limbah tersebut bila bergabung dengan material organic yang ada dalam tanah, menghasilkan gas metana. Gas metana bahkan lebih berbahaya dari karbon dioksida. Gas ini 25 kali lebih kuat dari karbon dioksida dalam menyumbang panas di atmosfer. Dampak dari pemborosan makanan ternyata sangat luas. Mencakup kehidupan kita sendiri.

Lingkungan kita benar-benar membutuhkan perhatian serius. Kita dihadapkan pada ancaman pemanasan global dan perubahan iklim. Ditambah lagi pola konsumsi masyarakat yang banyak menghambur-hamburkan makanan. Kita harus menyadari bahwa pilihan makanan kita berpengaruh besar terhadap lingkungan yang kita diami. Ada banyak sekali cara sederhana untuk mengurangi pemborosan makanan dan juga menjaga lingkungan kita. Cara paling mudah adalah dengan menjadi pecinta makanan. Membeli, memasak, dan memanfaatkan makanan secara efisien dan menyiapkan porsi makan yang tepat. Sehingga tak ada satu keping nasi atau makanan lain yang tersisa. Mengolah lagi makanan sisa menjadi makanan baru yang lain agar tidak terbuang percuma. Limbah makanan sisa juga dapat diolah menjadi pupuk kompos. Kurangi polusi dengan lebih sering bersepeda dan mengurangi penggunaan kantong plastic dapat dilakukan sebagai upaya melindungi lingkungan.

Zaman dahulu kita ada ungkapan yang mengatakan kalau makanan tidak dihabiskan maka ayamnya akan mati. Hal itu bukan hanya tentang karma, tetapi juga bagi lingkungan kita. Mari makan dengan bijak. Mari tidak membuang makanan. Selamat makan dengan bijak!

-QT\/QU-

Amelia Putri Rizqiani Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment