Jangan pernah berpikiran perpisahan ini tak membuatku sedih. Bahkan sebelum kau memikirkannya, aku sudah tahu akan sesedih apa. Lebih darimu.Masih saja, hal yang paling menyedihkan dari perpisahan adalah sisanya. Sisa-sisa dimana pada akhirnya kita menjadi aku dan kau saja. Kita menjadi dua bagian yang tak lagi saling bersambung, terhubung, dan padu. Dan sisa-sisa tersebut jauh lebih terasa lama daripada aku dan kau yang bersebab akibat menjadi kami atau kita. Sisa seperti itu. Sisa seperti itu yang aku maknai.
Aku tak mau banyak bersedih di akhir. Kau pasti sadari itu. Aku masih provide. Aku masih tertawa. Aku masih galak. Seperti biasanya yang kau kenal dan tahu pasti. Sebab aku percaya, tak akan ada yang berubah. Sama sekali. Aku akan tetap ada saat dibutuhkan. Aku akan tetap membantah apapun yang kau katakan. Aku akan memperhatikan Tidak berubah. Setidaknya itu yang aku harapkan. Aku mau menjunjung bahagianya saja. Dan aku berpegang teguh pada hal itu.
Kau tak pernah tahu bagaimana aku menikmati sisa-sisa perpisahan ini. Mengenang. Dengan tertawa-tawa kecil membuka kembali gallery lama yang pernah terekam. Kejadian memalukan, menggembirakan, hingga sedikit sedih tetap saja menghasilkan tawa. Tak akan bosan. Kemudian setelah itu sambil tersenyum mengingat-ingat bagaimana kau berupa, kau tertawa, peristiwa-peristiwa lain yang tak pernah tereka gambar, kita bersama. Lalu membayangkan. Hening dan diam serta sedikit sedih yang tak aku pedulikan. Membayangkan bagaimana sekarang kau masih dengan tawa yang sama, dengan gelak yang serupa. Bedanya adalah aku yang tak pernah tahu lagi. Meski aku amat mau. Dan selanjutnya prosesi mengenang itu berakhir pada doa. Doa untuk kau yang dihiasi dengan banyak semoga dan pengharapan. Hanya ini yang perlu kau tahu selain rinduku. Aku mendoakanmu. Selalu.
Semoga saja lupa tidak membawa ingatan ini pergi. Paling tidak aku masih bisa meraba perasaannya. Lewat memori dan tulisan ini. Bukan tentang sedih. Semoga kau sama saja.
Bagiku, perpisahan karena sudah saatnya itu lebih menyedihkan. Even if we can anticipate it, knowing that nothing can be changed is hurt.-QT\/QU-

No comments:
Post a Comment