Jangan berpaling, karena nanti kau bisa ketinggalan.Aku terbiasa berlari. Melawan waktu. Waktu. Musuhku. Aku tak mau ketinggalan. Apalagi sampai tergilas zaman. Jangan.
Aku pelari. Bergerak dengan cepat. Hidupku berjalan seolah olah aku akan mati besok. Itu bukanlah hal yg salah bukan?
Aku terbiasa dengan kamu. Kamu yang dulu yang selalu ingin tahu. Dan kita berlari bersama. Dengan kecepatan yang sama. Aku senang kau mengimbangiku. Aku senang karena aku tak sendiri. Tak penting. Kamu yang terpenting. Kamu. Kamu yang ku rindu. Hingga kini bahkan ketika rindu tak lagi jadi satu.
Aku masih dengan kecepatan yang sama. Berlari. Namun kamu melambat. Setelah semua episode yang kita lewati, aku tahu diri. Aku tetap berlari. Hidup ini terlalu indah untuk diperlambat. Aku ingin tahu banyak hal, untuk itu aku cepat.
Sedih. Ketika kau tak hanya melambat, namun juga berpaling. Lebih sedih lagi saat kamu terjebak diantaranya. Antara cepat dan lambat. Antara menatap atau menengok. Antara itu yang aku tak tahu bisa dibawa kemana. Seringkali keseimbangan hanya sekedar pembenaran saat takut.
Aku mau berhenti sejenak. Untuk menunggumu. Namun jangan kau berpaling. Kau akan melewatkan lebih banyak hal. Aku cepat. Aku pelari. Yang menghentikanku hanya garis finish. Kecuali kamu.
Maukah kau berlari bersamaku?
-QT\/QU-
#30harimenulis #himakom

No comments:
Post a Comment