07 May, 2014

Susu dan Nutri*ari



Karena susu tak selalu dibalas dengan susu, terkadang malah jadi Nutri*ari. Asem.
 Kalau kau bertanya untuk apa dan kenapa, aku hanya akan bilang karena ini aku. Aku yg kau kenal sejak dulu. Waktu berjalan, keadaan berubah, tapi aku tidak. Setidaknya. Mungkin kau tak lagi mengerti. Karena aku berkenalan denganmu dahulu. Bukan yg kini.

 Lupakanlah. Karena kalau aku masih bicara kini dan nanti, artinya aku telah gagal. Kalaupun aku gagal, janganlah sekarang. Aku masih berbangga.

 Kalau kini kau tak lagi menanggapiku seperti dahulu. Aku tak akan mau tahu. Kalaupun ada yg berubah dari aku, itu adalah isi otakku; hasil dari pembelajaran. Tak apa kalau kau tak lagi memperhatikanku. Aku sekarang berpandangan maklum memaklumi, bukan lagi balas membalas. Aku memperhatikanmu. Kau tak perlu begitu.

Aku juga paham betul, seringkali upayaku untuk menjaga dan memperhatikanmu sepenuh jiwa hanya dibalas dengan emoticon titik dua kurung tutup, satu kata 'ya' atau sekedar terbaca. Namun sekali lagi, ini tentang saling memaklumi, bukan lagi saling membalas.

Menjaga dan memperhatikan. Berhenti saja sampai disitu. Meski terkadang disertai ingin tahu dan sedikit mau. Tapi yg paling utama adalah aku tahu kau baik-baik saja. Dan aku selalu ada. Untuk menjaga dan memperhatikan.

Aku memberimu susu dari sapi terbaik di peternakan paling bermutu. Setiap hari. Sementara kau sekedar menyuguhkan nutri*ari jeruk yg fenomenal itu. Dari burjo yg kau temui di perjalanan pulang mu.

 Aku tak lagi perlu susu. Aku sudah sehat. Nutri*ari pun tak apa. Asam tapi enak. Apalagi ditambah susu.

-QT\/QU-
#30harimenulis #himakom


Amelia Putri Rizqiani Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment