Kalau berkehidupan itu tentang balas membalas, maka akhir seperti apa yang kita inginkan?Sedari dulu, kita selalu diajarkan untuk membalas. Membalas air susu dengan air tuba, membalas pantun, membalas surat, dan yang modern membalas sms, chat, atau membalas komen. Apa yang kau beri akan kembali. Itu.
Kemudian, balas membalas itu terus saja berlanjut. Aku memberimu. Kau membalasnya. Aku membalas pemberianmu, kau membalas balasanku. Terus saja begitu. Kalau tak dibalas? Anggap saja kita menyalahi tradisi. Lalu kapan mau berakhir?
Rasanya tidak adil kalau kita hanya balas membalas. Kalau tidak ada yang memberi, apakah ada yang membalas? Kasihan kepada orang yang tak pernah saling bersinggungan, yang tak pernah tahu memulai. Orang yang kita tahu tapi sekedar itu.
Mungkin kini saatnya kita peduli. Peduli kepada yang tak terlibat. Sehingga balas membalas juga tak lagi jadi sekedar saling. Saling yang tak ada ujung temunya. Saling yang tak ada hentinya.
Mungkin lebih baik bukan lagi balas membalas namun maklum memaklumi. Memaklumi yang ada namun seolah tiada. Memaklumi yang mau namun seolah tak mau. Memaklumi yang seolah-olah. Bukan seolah-olah memaklumi. Boleh tidak kalau diganti?
-QT\/QU-
#30harimenulis #himakom

No comments:
Post a Comment