17 July, 2013

Dari Meriam Bellina Hingga Maudya Ayunda


  • Kisah Parsan, Pembuat Reklame Film di Bioskop Rajawali, Purwokerto
Orang baik ada dimana-mana. Tidak pandang pangkat dan jabatan. Dari Pak Parsan ini saya mendapat tiket nonton film Refrain gratis untuk dua orang. Teramat berharga untuk seorang mahasiswa. Terimakasih, Pak. 
 Tangannya dengan lincah menggores cat di atas papan triplek berwarna hitam dengan ukuran dua kali satu meter di depannya. Terkadang tangannya terhenti, dan matanya mematut. Sebentar kemudian mulai menggores-gores lagi. Rokok tetap menempel di mulutnya meskipun tangannya belepotan cat. Pria itu sesekali menekuk-nekuk tubuhnya. Mungkin lelah karena sedari tadi duduk menunduk dengan posisi jongkok. Tak berselang lama. Hanya lima menit, sebuah reklame sudah jadi. Honeymoon. Dibintangi oleh Shireen Sungkar, Al Fathir Muchtar, Nino Fernandez, dan Ardina Rasti. Bioskop Rajawali Purwokerto Studio 3. Jam tayang  11.45 | 13:45 | 15:45 | 19:00 | 21:00. Dialah Pak Parsan (47), sang pembuat reklame film yang tiap hari terpasang di jalan-jalan besar, mobil promosi, dan di depan bioskop Rajawali, Purwokerto.

Sehari-hari Pak Parsan yang asli Purwokerto biasa duduk-duduk di tempat parkir Rajawali sembari mengobrol dengan rekan kerja lainnya. Bagi orang yang tidak tahu, mungkin dia dianggap tukang parkir atau karyawan dengan gaji buta. “Ya, memang seperti ini biasanya. Duduk-duduk sambil merokok, bantu jaga parkir, ngobrol sama yang lain. Tapi kalau pas ada pergantian film, saya yang paling sibuk. Bikin reklame buat film-film baru itu,” ujarnya sambil tersenyum. Memang, pekerjaannya itu tidak menuntut untuk bekerja setiap saat. Lebih banyak santainya malah. Berangkat dari pukul tujuh pagi dan pulang menjelang pukul lima sore. Dia baru bekerja saat ada pergamtian film yang akan diputar. Pergantian film biasanya dua minggu sekali. Itupun kalau sepi. Bila Rajawali ramai pengunjung, pergantian filmnya bahkan bisa lebih lama lagi. Karena bila semakin banyak peminatnya, maka film tersebut akan lebih lama berada di studio bioskop.

Bagi Pak Parsan, gambar menggambar bukan hal asing lagi baginya. Sedari kecil, hobinya memang menggambar. Gupak cat begitu dia mengistilahkan. Setiap hari, Parsan kecil menggambar di atas kertas. Entah itu kertas bekas atau baru. Sampai bertumpuk-tumpuk dia menggambar. Apa saja digambarnya. Pemandangan, orang, sampai pohon dan bunga-bunga. Tapi yang disukainya adalah menulis indah. Setiap huruf dibentuk-bentuk agar semakin terlihat menarik. Bekalnya cuma kertas dan pensil. Terkadang juga pakai spidol atau pensil warna. Berjam-jam dihabiskannya untuk menggambar. Hal tersebut membuat bapaknya geram. Pernah, suatu ketika semua hasil karya Parsan kecil, setumpuk tinggi gambar itu, dibakar begitu saja. “Kata bapak, ngapain kamu gambar-gambar kayak gitu. Gambarmu itu gak bisa untuk cari uang. Mending bantuin Bapak,” kenang Pak Parsan sambil menghisap rokoknya dalam-dalam. Namun kejadian tersebut tak menghentikan hobi menggambarnya. “Tetep nggambar. Tapi sembunyi-sembunyi. Kalau ketahuan bapak pasti dimarahin. Dan saya pun hanya diam. Gak ada kapoknya kalau masalah nggambar.” Omongan bapaknya sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Dari keahlian menggambarnya itu, Pak Parsan sering diminta teman-temannya untuk menggambarkan macam-macam. Kadang diberi uang, jajan, atau seringkali hanya ucapan terimakasih. “Yang dicari bukan uangnya. Tapi kepuasannya. Kalau sudah seneng kan gak masalah berapapun.”

Pak Parsan sudah bekerja di Rajawali sejak usianya 21 tahun. Kala itu dia hanya menjadi tukang cat disitu. Itupun dia hanya sebagai buruh dan ikut orang. Tidur, makan, dan aktivitas lain juga lebih sering dilakukan di Rajawali. Meskipun menjadi tukang cat, Pak Parsan tidak mengeluh. Bahkan dia yang paling rajin diantaranya kawan-kawan lainnya. Selain itu dia juga lebih telaten dan terampil. Sampai suatu ketika bos nya menawarinya pekerjaan baru. “Pak bos tanya mau gak saya jadi tukang nulis reklame film. Awalnya saya gak ngerti tugasnya ngapain. Terus Pak Bos bilang kalau cuma bikin-bikin tulisan. Saya langsung mau. Kan saya juga suka bikin-bikin begituan,” ungkapnya sambil matanya menerawang dan mengenang. Lalu tersenyum kecil.

Pertama kali berprofesi sebagai pembuat reklame, Pak Parsan digaji Rp 20.000. Jumlah tersebut tentu tidak seberapa. Meskipun masih cukup untuk menghidupi kebutuhan pribadinya. “Mulai pontang-panting saat sudah menikah dan punya anak.” Pak Parsan menikah pada tahun 1989 dengan Darni. Anak pertamanya lahir selang setahun setelahnya. Demi memenuhi kebutuhan keluarganya tersebut, Pak Parsan menjalani kerja sampingan. Tak jauh-jauh dari hobinya. Beliau menerima pesanan pembuatan spanduk. Kerjaan sampingan ini bahkan berjalan dengan lancar. “Zaman Orde Baru banyak sekali pesanan bikin-bikin spanduk. Bisa ratusan per bulan. Bahkan duit gaji dari Rajawali utuh. Semua kebutuhan sudah dipenuhi dari bikin-bikin spanduk itu,” katanya sambil terkekeh. Namun sekarang, pesanan spanduk sudah tak lagi sebanyak dahulu. Gaji Pak Parsan sekarang pun kira-kira sebesar Rp 1.500.000. Gaji sebesar itu dipakai untuk menghidupi keluarganya yang terdiri dari satu istri dan lima anaknya. Beruntung, tiga diantaranya sudah bekerja. Sehingga kebutuhan sehari-hari masih dapat tercukupi.

Bekerja sesuai dengan hobi memang menyenangkan. Pak Parsan mengamininya. Meskipun seringkali bekerja dengan jangka waktu yang sempit, Pak Parsan tidak mengangap hal tersebut sebagai sebuah tekanan. Tapi sebagai bagian dari komitmen dan pengabdian. “Kerja jadi seperti main-main saja. Nulis, coret coret sana sini. Lalu jadilah. "Jadi tambah gaul juga karena update tentang film. Masih terlihat muda kan saya” celetuknya. Selain itu dia juga mengaku jadi tahu perkembangan film. Termasuk nama-nama artisnya. “Saya malah bingung kalau ditanya apa dukanya.”

Sejak menjadi pembuat reklame film tersebut tentu saja Pak Parsan menjadi tahu nama-nama artis top dari masa ke masa. Mulai dari Didi Petet, Suzanna, Christine Hakim, Ongky Alexender, dan Meriam Bellina yang nampak wara-wiri di bioskop pada era akhir 1989. Dia khatam nama-nama pemain film tahun 2000an. Sebut saja Dian Sastro, Nirina Zubir, Tora Sudiro, dan Nicholas Saputra. “Sekarang nama-nama yang sering saya tulis ya macam Maudy Ayunda, Vino G. Bastian, juga Reza Rahardian. Saya hafal. Dulu Meriam Bellina, sekarang Maudy Ayunda. Kan saya yang tulis,” celetuknya sambil tersenyum simpul.

Tempat kerja Pak Parsan ada di belakang parkir. Ruang terbuka seperti pendopo. Bergabung dengan gudang. Tampak berantakan dan tidak tertata. Di sudut-sudutnya banyak barang-barang tak terpakai. Ada kursi-kursi bioskop usang, kayu-kayu, kuas-kuas tidak terpakai, dan juga triplek. Semuanya tidak teratur. Kaleng-kaleng cat tampak berserakan dimana-mana. Lantainya pun tak lepas dari carut marut cat yang tak sengaja tumpah. Sebenarnya Pak Parsan bisa bekerja dimana saja. Asal cukup luas dan terkena sinar matahari langsung. Sinar matahari penting untuk membantu proses pengeringan cat.

Pembuatan reklame film, menurut Pak Parsan sangat sederhana. Reklame film hanya memuat judul film, pemeran, tempat studio dan waktu tayang. Tidak ada gambar. Hanya memainkan teks yang indah, artistic, dan menarik. Bagi Pak Parsan, kalaupun harus pakai gambar juga bukan hal yang sulit. Namun, untuk membuat reklame film dengan gambar dibutuhkan waktu yang lama. Sementara pergantian film tidak bisa menunggu. Bila film datang malam ini, maka esok hari reklame sudah harus jadi. Pak Parsan mengerjakannya keesokan paginya. Dan di siang hari hasil karyannya tersebut sudah bertengger di Bioskop Rajawali. “Sebelumnya di sms sama orang kantor kalau ada film baru. Besoknya langsung saya kerjakan. Masalah ide biasanya saya lihat dulu dari filmnya. Kalau tulisan di filmnya menurut saya gak menarik ya saya ganti sendiri. Kebanyakan memang ide sendiri dan modifikasi dari yang asli. Yang terpenting dalam pembuatan reklame film ini adalah bagaimana agar tiap huruf yang ditampilkan itu hidup dan tidak kaku.”

Untuk sebuah film, Pak Parsan bisa membuat hampir sebelas reklame. Tujuh buah untuk dipasang di tempat-tempat umum dan strategis, satu dipasang di atas gedung Bioskop Rajawali, dan tiga buah dibawa berkeliling oleh mobil promosi. Sebelas lembar triplek reklame itu bisa selesai hanya dalam waktu satu jam. Paling lama dua jam. Sebab sebuah reklame di tangan Pak Parsan cuma membutuhkan waktu kurang dari sepuluh menit. Pekerjaannya diawali dengan membuat sketsa awal diatas triplek hitam menggunakan pensil. Baru kemudian setelahnya diwarnai. “Kalau salah ya tinggal ditimpa lagi pakai cat hitam,” ujarnya ringan. Pak Parsan memang tinggal menggambar dan mewaranainya. Setiap kebutuhannya sudah disediakan penuh oleh pihak Rajawali. Ada cat, kuas, triplek, dan pigmen. Bila salah satu habis, tinggal minta. Maka pihak Rajawali akan segera menyediakannya. “Enak kan kerjanya. Tinggal minta ini itu,” candanya.

Semua pembuatan reklame itu dikerjakan oleh Pak Parsan sendiri. Tidak ada bantuan, apalagi asisten khusus. Dari mulai tahap konsep dan ide hingga eksekusi. Rekan-rekan kerjanya yang lain paling hanya mengamati dan sesekali mengajak ngobrol. Pak Parsan mengaduk cat dan memolesnya sendiri. Sambil duduk berjongkok, dia menyelesaikan kewajibannya tersebut. “Gak ada yang mau bantu. Pada malas kalau harus berkotor-kotoran. Kerja kayak gini kan pasti belepotan cat kemana-mana. Kalau saya sih sudah biasa. Sendiri pun juga gak apa-apa sih. Kerjanya gampang dan cepat selesai juga. Keluhannya ya paling cuma capek nunduk dan jongkok terus,” katanya sembari tertawa.

Sebuah pertanyaan muncul. Sebagai seorang yang bekerja, menghabiskan hampir 10 jam waktunya di bioskop, apakah seorang Parsan gemar menonton film. Pak Parsan menanggapinya dengan tertawa. Sampai-sampai rokok yang dihisapnya hampir jatuh. “Saya sering nonton film disini. Tapi gak full. Masuk di tengah-tengah film, keluar pas filmnya belum selesai. Kalau tiap hari saya nonton film, nanti dibilangnya gak kerja.” Dihisapnya lagi rokok yang tinggal dua ruas jari tersebut. “Mending bantu jaga parkir saja. Biar aman,” tambahnya.

Sayangnya karier Pak Parsan tak berjalan mulus-mulus saja. Akibat dari perkembangan teknologi, spanduk tulisan tangan sekarang sudah kalah saing dengan spanduk digital. Bia dulu di samping membuat reklame film, dia bisa menerima ratusan spanduk dalam satu bulannya. Namun sekarang nihil. Satu saja sudah cukup untung, katanya. Orang-orang lebih memilih menggunakan banner. Mungkin karena lebih menarik. Menanggapi hal tersebut, Pak Parsan hanya tersenyum. Menurutnya,  hal tersebut sudah biasa. Pasang surut pasti akan dan terus terjadi. Pak Parsan hanya pasrah. “Kalaupun nanti saya sudah gak dibutuhkan lagi, saya juga akan tetap disini. Jadi OB atau tukang parkir juga mau,” katanya diiringi tawa renyahnya.

Bagi Pak Parsan, bapak yang sederhana dan ramah ini, bekerja memang bukan hanya persoalan dapat uang. Tapi lebih kepada pengabdian. Hampir setengah umurnya dihabiskan di bioskop Rajawali. Sehingga tak mudah baginya untuk keluar dari keluarga keduanya ini. Dan harga sebuah pengabdian tak dapat diukur dan digadaikan dengan berapapun jumlah rupiahnya. Pengabdian ada pada hati. Dan Pak Parsan, mengabdi dengan hati. "Sampai kapanpun saya akan tetap disini. Sampai tua dan jadi kakek-kakek."
Dedication is not what others expect of you, it is what you can give to others
Amelia Putri Rizqiani Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment