Aku ingin menyelami hatimu.
Mengutarakan yang tak pernah kau ucapkan. Aku ingin menatap matamu tapi yang
ada selalu ingin segera memalingkannya. Masihkah aku punya keberanian tuk
lakukan semua itu? Kenapa selalu ada jarak yang memisahkan kita? Walau ku hanya
ingin jadi teman terbaikmu.
Apakah masih mungkin jika suasana
selalu beku oleh sikapku? Maafkan aku. Ku tahu kalau kau sudah berusaha keras
untuk hilangkan kekakuan itu tapi sia-sia oleh sikapku. Jujur, aku tak
bermaksud begitu. Namun aku tak tahan berlama-lama menatap wajahmu. Sampai
kapan kau tak memahamiku? Apakah kau menyangka selama ini aku tak pedulikanmu?
Itu salah. Karena sesungguhnya aku peduli. Sangat peduli. Andaikan aku punya
keberanian untuk ulurkan tangan ini saat kau berada dalam kebimbangan dan
kesedihan, saat itulah kau tahu betapa aku peduli padamu. Andai aku bisa baca
isi hatimu, ku ingin kau tahu apakah kau juga begitu pedulikanku. Jika kau tahu
betapa hampa hati ini yang terkadang butuh teman yang bisa memahami, peduli,
dan menjaga.
Saat aku benar-benar butuhkan
keceriaan bersamamu, maukah kau menghiburku? Isilah kekosongan hati ini.
Buatlah hati ini tidak lagi sepi. Namun ku sadar kau tak pernah rasakan itu.
Kau tak pernah peduli padaku. Kaupun tak pernah bisa memahamiku. Bisakah kau
hilangkan sejenak kesalahan-kesalahanku yang membuat harimu terasa membosankan
bersamaku?
Aku butuh ketenangan hati yang
tidak dikejar rasa bersalah yang selalu menekanku, memojokkanku, dan
menjatuhkanku. Aku ingin benar-benar jauh darimu saat kau benar-benar
melupakanku. Katakanlah yang ingin kau katakan. Semua tentangku. Semua yang
tidak kau sukai dariku. Sehingga aku mampu mengubah semua itu dan berharap kau
menerimaku sebagai temanmu. (June 4th 2007, 23:20)
-QT\/QU-

No comments:
Post a Comment