11 February, 2014

Perempuan Berwajah Sendu


Magang itu tujuannya untuk mengaplikasikan ilmu yang telah didapat. Termasuk ilmu sosial, kemanusiaan, dan kehidupan.
Aku banyak bercerita akhir-akhir ini.  Bukan tentang aku-siapalah aku ini. Namun tentang  orang yang aku temui. Siapapun itu. Kali ini tentang TKI.

Sudut pengaduan dan perlindungan TKI merupakan tempat yang dinamis di kantor konsulat Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia. Disini ada banyak orang yang datang dan pergi. Ada masalah yang silih berganti. Satu selesai, muncul puluhan lainnya. Begitu terus setiap hari. Waktu itu (10/2) datang seorang perempuan tua. Ku taksir usianya 60 tahunan. Pakaiannya bersahaja saja. Hanya balutan celana, kemeja lengan panjang, serta kerudung. Kesemuanya berwarna biru. Tangannya pun hanya menjinjing tas kecil seukuran radio portabel. Tak ada yang istimewa. Sederhana sekali.

Aku sudah memperhatikannya semenjak dia duduk mengantri. Sudut perlindungan dan pengaduan memang tengah pikuk kala itu. Kepalanya berulang kali melongok ke dalam ruangan kalau kalau sudut pengaduan sudah sepi. Mungkin ada 15 menit beliau menunggu. Ketika sudut pengaduan sudah tiada orang, beliau pun hanya terpaku di depan pintu. Mungkin ragu. Atau bahkan takut. Hingga kemudian salah seorang petugas memanggilnya masuk.

Dalam duduk pun beliau nampak tak tenang. Gelisah. Alis matanya tebal dan bentuk rahangnya kokoh kontras dan raut mukanya yang sendu dan melankolis. Baru ketika petugas menanyakan permasalahannya, beliau membuka mulutnya. Bercerita sambil terbata. Inti ceritanya adalah beliau diberhentikan oleh majikannya. Malangnya, paspornya dipegang majikannya dan hanya akan kembali bila beliau, perempuan berwajah sendu, membayar 2.800 RM atau sekitar Rp 10.220.000 (1 RM=Rp 3.650) kepada majikannya. Tanpa paspor, seorang imigran tak akan dapat melakukan apapun karen paspor bagaikan sebuah KTP internasional. Pulang pun juga tak akan bisa. Perempuan berwajah sendu hanya menuntut paspornya.

Pihak konsulat mencoba memfasilitasi komunikasi antara perempuan berwajah sendu itu dengan majikannya. Perempuan berwajah sendu itu mengaduk aduk isi tasnya untuk mencari nomor telepon majikannya. Ketemu sebuah notes kecil agak lusuh. Ketika dibuka isinya berderet nomor nomor telepon. Tulisannya kaku dan tidak rapi. Di salah satu halamannya tertulis huruf alfabet dari A hingga Z dengan bentuk yang kaku, lugu, dan terkesan lucu. Aku menyimpulkan beliau, perempuan berwajah sendu itu tidak pandai baca tulis. Di notes itu tak ditemukan nomor telepon majikannya. Kembali perempuan berwajah sendu mengaduk aduk tas nya. Ada lagi sebuah notes kecil. Lebih kecil dari yang pertama. Setelah membolak balik halamannya ketemulah nomor telepon majikannya. Petugas konsulat mencoba menghubungi majikannya. Menurut keterangan majikannya tersebut, penjamin dari perempuan berwajah sendu tersebut bukanlah majikan yang ditelepon tersebut, ada lagi orang lain. Tapi perempuan berwajah sendu benar bekerja padanya. Dan sekarang paspor dari perempuan berwajah sendu tidak ada padanya. Tak perlulah aku menjelaskan masalah ketenagakerjaan ini padamu. Itu amat pelik. Sungguh. Keterangan majikan tersebut diamini oleh perempuan berwajah sendu. Beliau menyatakan bahwa penjaminnya adalah suami dari majikan yang tadi ditelepon. Saat ditanya siapa nama majikan laki-laki (Bos) tersebut, perempuan berwajah sendu tak tahu. Saat ditanya berapa nomor teleponnya, beliau menggeleng.

Perlindungan kepada perempuan berwajah sendu menemui jalan buntu. Tangan perempuan berwajah sendu yang sudah keriput tampak meremas-remas ujung tasnya. Masih takut, ragu, dan gelisah. Perempuan berwajah sendu terlalu banyak tidak tahu. Ditanya tentang alamat majikannya, beliau hanya tahu nama daerahnya saja. Tidak dengan alamat lengkapnya. Ditanya alamat atau nama kantor majikannya beliau tak tahu. Jawabnya,"saya tak pandai baca tulis jadi tidak tahu alamatnya. Saya tahu rumahnya. Di tingkat empat." Sungguh tak sampai hati aku mendengarnya. Entahlah. Mungkin karena wajahnya yang sendu. Mungkin karena kisahnya yang kelu. Mungkin karena beliau tidak tahu. Entah.

Perempuan berwajah sendu membolak balik lagi kedua notesnya. Katanya beliau punya anak yang bekerja pada majikan yang sama. Untung bagi anaknya meskipun keduanya sama sama diberhentikan, paspor anaknya diakui ada di majikan tersebut. Sementara paspornya sendiri tak tahu dimana. Hanya itu keterangan yang didapat dari majikan. Mungkin ada satu pihak yang berbohong. Ah, aku tak mau berspekulasi. Ditelepon lah anaknya itu. Tak ada jawaban. Aku sedikit lega melihat ada handphone di dalam tas bututnya. Semakin buntu permasalahannya. Sementara petugas pun juga tak tahu harus berbuat apa. Dokumen tidak ada. Keterangan pelapor dan majikan tidak lengkap. Pertanyaan-pertanyaan hanya dijawab tidak tahu. Petugas beralih kepada kasus lain. Membiarkan perempuan berwajah sendu duduk terpaku di kursi yang juga biru.

Tangannya tetap membolak balik notes. Terkadang diselingi dengan mengaduk aduk isi tas. Melihat dengan penuh harap kepada petugas di hadapannya. Tak lama handphone nya berdering. Perempuan berwajah sendu berbicara dengan bahasa Timor. Sesuai dengan asalnya. Aku tak paham. Kemudian perempuan berwajah sendu terisak. Diusapnya matanya dengan sapu tangan yang entah kapan dikeluarkannya dari tas. Terkikis lagi pertahananku. Untuk kedua kalinya aku merasakan lagi sesuatu. Mungkin iba. Mungkin perasaan tak tega. Sungguh. Perempuan tua dengan cerita yang merana, tak paham baca tulis, tak banyak tahu, wajahnya sendu dan merana, dilengkapi dengan air mata. Di hadapanmu. Apa lagi yang mau kau katakan?

Telepon diserahkan kepada petugas. Sementara beliau masih terisak meski sayup. Sapu tangannya bergerilya di area mata dan hidungnya untuk menghapus air matanya. Tapi tidak sendu dan merana di rautnya. Ternyata telepon itu datang dari anaknya, yang sudah berada di Nunukan, Indonesia. Barangkali anaknya tahu beberapa hal terkait majikannya. Namun ternyata sama saja. Sama sama nihil. Anaknya juga tak banyak tahu. Semakin sendu saja wajah beliau. Semakin tak karuan saja perasaanku. Petugas menegaskan lagi pertanyaan-pertanyaan sebelumnya. Jawabannya tetap. Hanya saja perempuan berwajah sendu itu menjawab sambil tertawa. Mungkin menertawai ketidaktahuannya. Mungkin menyesal. Mungkin menutupi nelangsa hatinya. Mungkin menenangkan dirinya sendiri. Ah, aku sudah berspekulasi. Baiklah aku hentikan.

Petugas semakin tak tahu harus bagaimana. Jalan terakhir adalah dengan mengirimkan surat kepada majikannya untuk datang memberikan keterangan di kantor konsulat. Lagi-lagi masalah dengan alamat. Satu-satunya jalan adalah membiarkan perempuan berwajah sendu mengantarkan sendiri surat itu ke tempat majikannya. “Saya takut pergi ke rumah majikan saya.” Begitu ujarnya. Aku tak tahu lagi perasaan apa yang ada di dadaku. Rasanya sakit dan sesak. Rasanya dadaku semakin sempit saja.

Ada dimana aku saat itu? Ada. Aku ada persis di sebelah kanannya. Hanya terpisah oleh sebuah meja. Aku tengah mengerjakan laporan dari kasus lain saat itu. Aku sama halnya dengan petugas. Perempuan berwajah sendu itu terlalu banyak tidak tahu. Dan kami yang tugasnya mengumpulkan apa yang TKI dan majikan tahu jadi tidak bisa berbuat apa-apa. Surat itu satu-satunya harapan.

Kemudian di kala petang sudah menjelang, perempuan berwajah sendu yang masih terduduk kaku. Wajahnya menjadi sedikit tegang. Sepertinya tengah bergulat dengan pikirannya sendiri. Petugas hanya berpesan, ”kalau Ibu tidak berani, maka urusan ini tidak akan selesai. Kita butuh keberanian Ibu.” “Nanti saya mau nunggu anak saya,” ujarnya. Perempuan berwajah sendu tersenyum. Terlihat giginya yang masih rapi meskipun tidak terawat. Beliau undur diri. Tanpa membawa surat.

Mungkin perempuan berwajah sendu itu tengah mengumpulkan keberanian dan kekuatannya. Dan aku, yang hanya tahu mengumpulkan pengetahuan-pengetahuan hanya mendoakan dua hal. Semoga keberanian dan kekuatan itu cepat diberikan kepadanya dan menyelesaikan semua perkaranya. Kedua, semoga sendu dan merana itu cepat pergi dari wajahnya. Aku percaya, senyum ditambah gigi dan mata yang berpijar dapat merubah sendu jadi teduh dan merana jadi bahagia.
Aku menunggumu esok hari, perempuan berwajah sendu. Ambil suratnya di lantai atas konsulat!
-QT\/QU- (@ap_rizrain; 021014; 22:35 waktu bagian Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia; saat besok mau magang, agak sibuk, dan aku multitasking)

Amelia Putri Rizqiani Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

3 comments:

  1. ameeeeel keren tulisannya, penggambarannya detil dan idup banget. ajari aku guruuu

    ReplyDelete
  2. ini nyentuh banget ceritanya meeel.. i'm speechless. dan tulisanmu indah. aku suka :)

    ReplyDelete