05 March, 2014

Masa Lalu




 
Ada hal-hal di masa lalu yang tidak kita ketahui. Bahkan banyak hal yang tersembunyi dan kita tak tahu pasti. Sebagian orang menolak membicarakannya, selebihnya berbicara saja tanpa tahu maknanya. Itulah masa lalu dimana tak semua orang yang terlibat berada pada makna yang sama.
Aku tengah berbincang santai dengan Pakdheku (kakak kandung ayahku) di Minggu pagi itu; seorang diplomat sukses yang sudah banyak menjelajah negara. Seorang yang terhadapnya aku melihat. Beliau bercerita bagaimana nasib dan perjuangan membawanya seperti sekarang. Banyak sekali ceritanya. 

Pakdhe:  Dulu bapak (Bapakku) itu juga daftar di UNDIP sama kaya Pakdhe. Tapi di jurusan Teknik. Kalau Pakdhe kn jurusan Hukum. Bapak keterima itu di Teknik UNDIP. Tapi saat itu kondisi orang tua sedang susah. Pakdhe juga masih kuliah. Kn ga mungkin "nguliahke" dua orang. Ya bapak ga jadi kuliah di UNDIP. Karena Pakdhe udah terlanjur nyemplung jadinya bapak yang ngalah. Pakdhe punya temen di IKIP trus akhirnya Pakdhe kasih rekomendasi ke bapak untuk ke Keguruan saja. Soalnya setelah selesai kuliah nanti dijanjikan langsung jadi guru PNS. Ya itu. Jadilah seperti sekarang.
Aku: Oh iya ya pakdhe. Saya tidak tahu. Hehe.

Respon pertama yang ku berikan adalah terkejut. Pasti. Kemudian yang muncul di fikiran adalah bayangan, jika, bila, kalau, dan, seandainya. Jika bapak jadi insinyur, maka aku tak akan hidup di Rembang. Bila bapak jadi insinyur, aku tak akan merasa kekurangan. Kalau bapak jadi insinyur, aku akan dapat yang aku mau. Seandainya bapak jadi insinyur, aku, aku, aku. Sayangnya jika, bila, kalau, dan seandainya hanya jadi majas yang mendukung khayalan. Bukan kenyataan. Kenyataannya adalah saya mencintai bapak sekarang dan seterusnya.

Cerita itu, tak pernah aku dengar dari bapak. Meskipun begitu aku tak akan pernah meragukan keabsahannya. Aku tahu tapi aku menolak membicarakannya. Aku mencintai bapak dulu, sekarang, dan seterusnya. Aku mengabaikan jika, bila, kalau, dan seandainya. Bapak yang sekarang, yang tak pernah bilang tidak untuk keinginanku. Bapak yang selalu berkorban demi aku. Bapak yang sederhana dan tak pernah membicarakan yang lalu-lalu.

Aku menghargai prinsip bapak untuk tidak pernah membagi-bagi masa lalunya. Sesulit atau secemerlang apapun itu. Toh, kita tak hidup di masa lalu. Ya, masa lalu adalah pelajaran. Namun pada sekarang kau pun bisa melihat. Pelajaran dan lalu-lalu. Bapak tak mau menebar sedih. Bapak tak mau menyebar gembira. Bapak mau berkorban.

Masa lalumu, Pak. Aku tahu. Mungkin aku juga paham sedikit kecewa dan lukamu. Dan aku menolak membicarakannya. Aku percaya. Aku mencintaimu dulu, sekarang, dan seterusnya. 
Aku tidak hidup di masa lalu. Namun masa lalu itu yang tidak akan pernah aku pertanyakan
-QT\/QU-
(050314, 10:55 waktu bagian KK, saat di kantor, sepi, dan aku pulang dua minggu lagi)
Amelia Putri Rizqiani Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment