Ada hal-hal di masa lalu yang tidak kita ketahui. Bahkan banyak hal yang tersembunyi dan kita tak tahu pasti. Sebagian orang menolak membicarakannya, selebihnya berbicara saja tanpa tahu maknanya. Itulah masa lalu dimana tak semua orang yang terlibat berada pada makna yang sama.
Aku tengah berbincang santai dengan
Pakdheku (kakak kandung ayahku) di Minggu pagi itu; seorang diplomat sukses
yang sudah banyak menjelajah negara. Seorang yang terhadapnya aku melihat.
Beliau bercerita bagaimana nasib dan perjuangan membawanya seperti sekarang.
Banyak sekali ceritanya.
Pakdhe: Dulu bapak (Bapakku) itu juga daftar di UNDIP
sama kaya Pakdhe. Tapi di jurusan Teknik. Kalau Pakdhe kn jurusan Hukum. Bapak
keterima itu di Teknik UNDIP. Tapi saat itu kondisi orang tua sedang susah.
Pakdhe juga masih kuliah. Kn ga mungkin "nguliahke" dua orang. Ya
bapak ga jadi kuliah di UNDIP. Karena Pakdhe udah terlanjur nyemplung jadinya
bapak yang ngalah. Pakdhe punya temen di IKIP trus akhirnya Pakdhe kasih
rekomendasi ke bapak untuk ke Keguruan saja. Soalnya setelah selesai kuliah
nanti dijanjikan langsung jadi guru PNS. Ya itu. Jadilah seperti sekarang.
Aku: Oh iya ya pakdhe. Saya tidak tahu.
Hehe.
Respon pertama yang ku berikan adalah
terkejut. Pasti. Kemudian yang muncul di fikiran adalah bayangan, jika, bila,
kalau, dan, seandainya. Jika bapak jadi insinyur, maka aku tak akan hidup di
Rembang. Bila bapak jadi insinyur, aku tak akan merasa kekurangan. Kalau bapak
jadi insinyur, aku akan dapat yang aku mau. Seandainya bapak jadi insinyur,
aku, aku, aku. Sayangnya jika, bila, kalau, dan seandainya hanya jadi majas
yang mendukung khayalan. Bukan kenyataan. Kenyataannya adalah saya mencintai
bapak sekarang dan seterusnya.
Cerita itu, tak pernah aku dengar dari
bapak. Meskipun begitu aku tak akan pernah meragukan keabsahannya. Aku tahu
tapi aku menolak membicarakannya. Aku mencintai bapak dulu, sekarang, dan
seterusnya. Aku mengabaikan jika, bila, kalau, dan seandainya. Bapak yang
sekarang, yang tak pernah bilang tidak untuk keinginanku. Bapak yang selalu
berkorban demi aku. Bapak yang sederhana dan tak pernah membicarakan yang
lalu-lalu.
Aku menghargai prinsip bapak untuk tidak pernah membagi-bagi masa lalunya. Sesulit atau secemerlang apapun itu. Toh, kita tak hidup di masa lalu. Ya, masa lalu adalah pelajaran. Namun pada sekarang kau pun bisa melihat. Pelajaran dan lalu-lalu. Bapak tak mau menebar sedih. Bapak tak mau menyebar gembira. Bapak mau berkorban.
Masa lalumu, Pak. Aku tahu. Mungkin
aku juga paham sedikit kecewa dan lukamu. Dan aku menolak membicarakannya. Aku
percaya. Aku mencintaimu dulu, sekarang, dan seterusnya.
-QT\/QU-Aku tidak hidup di masa lalu. Namun masa lalu itu yang tidak akan pernah aku pertanyakan
(050314, 10:55 waktu bagian KK, saat di kantor, sepi, dan aku pulang dua minggu lagi)
No comments:
Post a Comment