Gelaran
Piala Sudirman resminya berlangsung hingga 26 Mei nanti. Namun, Indonesia telah
mengakhirinya dengan premature. Indonesia terhenti di perempat final setelah
ditaklukkan tim dari negeri tirai bambu, Cina dengan skor 2-3. Hal tersebut
menjadikan Indonesia gagal memenuhi target menuju ke semifinal. Praktis, ini
merupakan prestasi terburuk tim Sudirman Indonesia sejak awal diselenggarkannya
turnamen bulutangkis beregu ini. Sebelumnya, Indonesia minimal sampai pada
tahap semifinal.
Skuad
tim Piala Sudirman terdiri dari pemain-pemain muda. Hanya Lilyana Natsir,
Tontowi Ahmad, dan Greysia Polii yang sudah terlihat lama malang melintang di
turnamen-turnamen bulutangkis dunia. Sisanya pemain muda berbakat yang memang
butuh lebih banyak pengalaman seperti Tommy Sugiarto, Rian Agung, dan Angga
Pratama. Gita Wirjawan, selaku ketua PBSI memang sengaja memanggil
pemain-pemain muda demi meneruskan regenerasi pemain yang pada tahun-tahun
sebelumnya sempat terhambat. Keputusan Gita ini sangat tepat. Indonesia terlalu
mengandalkan nama-nama lama seperti Sony Dwi Kuncoro atau Simon Santoso tanpa
memberikan kesempatan pada pemain lain, sementar Sony dan Simon pun minim
prestasi belakangan ini. Akan tetapi formulasi tersebut belum juga membawa
angin segar bagi bulu tangkis tanah air. Tim ini masih belum bisa merebut Piala
Sudirman sejak 24 tahun lalu. Apa yang salah?
Bulutangkis
Indonesia minim sekali prestasinya beberapa tahun terakhir ini. Terakhir,
prestasi terbaik Indonesia adalah memperoleh satu set medali dalam Olimpiade di
Beijing tahun 2008. Emas didapat dari
ganda putra, Markis Kido dan Hendra Setiawan, perak dari Lilyana Natsir dan
Nova Widianto, serta perunggu dari tunggal putri Maria Kristin. Setelah itu tak
nampak prestasi besar diraih oleh pebulutangkis Indonesia. Selalu saja kalah
dari Cina. Kita pasti belum lupa pada Liem Swie King, Alan Budikusuma, Susi
Susanti, dan Mia Audina. Mereka semua itulah yang membawa nama Indonesia masuk
dalam daftar kekuatan bulutangkis dunia. Indonesia bahkan dianggap kiblat
perbulutangkisan dunia saat itu. Siapapun akan segan bila menghadapi
pemain-pemain legendaris tersebut. Bahkan Cina sekalipun. Tapi mengapa sekarang
atlet bulutangkis kita susah sekali merobohkan tembok Cina? Statistik mencatat
sejak 1993, tim Indonesia selalu kalah dari Cina.
Kegagalan
Tim Piala Sudirman cukup menjadi pukulan telak bagi PBSI (Persatuan Bulutangkis
Seluruh Indonesia). Apa yang salah dengan pembinaan atlet kita? PBSI telah
menghasilkan regulasi yang bagus terkait perekrutan pemain-pemain muda.
Pemain-pemain ini dituntut lebih sering turun dalam turnamen-turnamen
internasional demi mendapatkan pengalaman. Hanya saja hal tersebut belum mampu
mendongkrak prestasi kita. Piala Sudirman masih saja luput dari tangan. Kemampuan
pemain kita belum bisa melampaui kedigdayaan Cina. Belum lagi masalah mental
masing-masing pemainnya yang belum bisa mengatasi tekanan dari
pertandingan-pertandingan berat. Hayom Rumbaka, tunggal putra Pelatnas pernah
merasakannya. Menghadapi tunggal putra Cina yang berperingkat jauh di atasnya,
Hayom takluk tak berdaya. Hal tersebut yang seharusnya juga menjadi perhatian
penting para awak PBSI. Satu lagi yang tidak kalah penting adalah regenerasi.
Tren positif regenerasi di bawah Gita Wirjawan harus dipertahankan dan
dilaksanakan secara berkelanjutan. Sehingga tidak terjadi “generasi mandeg”
ketika bulutangkis tidak ada prestasi dan tak ada penerus yang mumpuni.
Selama
ini, kita hanya sekedar mencari bakat-bakat luar biasa tanpa berniat membentuknya.
Artinya bahwa PBSI hanya siap menampung pemain yang sudah jadi untuk kemudian
dikembangkan. PBSI seharusnya benar-benar melihat masalah ini. Pembinaan
terhadap pemain potensial harus dilakukan dini. Anak-anak yang terlihat
memiliki minat kuat dalam bulutangkis ditarik dan dibina sejak awal. Sehingga
yang terjadi adalah pengkaderan bukan sekedar penarikan anggota. Cina sudah
menerapkan pelatihan intensif sejak dari anak-anak. Dan superioritas Cina dalam
dunia bulutangkis sudah tidak diragukan. Mengikuti jejak Cina yang terbukti
sukses, tak ada salahnya PBSI mencoba trik tersebut. Selain itu, dengan
memperbanyak turnamen bagi anak-anak di setiap tingkat masyarakat, akan semakin
menunjukkan potensi anak-anak kita.
Bulutangkis merupakan
olahraga kegemaran rakyat Indonesia. Bulutangkis itu harga diri bangsa
Indonesia. Kekalahan tipis Indonesia atas Cina dalam Sudirman cup bisa
dipandang secara positif. Patriot muda kita dapat memberikan perlawanan sengit
terhadap Cina. Setitik harapan akan berawal dari sini. Dengan pembinaan dan
rekruitmen yang lebih baik lagi, titik-titik itu akan semakin terang dan
menyinari jagat bulutangkis kita. Smash dan maju terus bulutangkis Indonesia!
-QT\/QU-

No comments:
Post a Comment