27 May, 2013

Masa Depan Bulutangkis Kita


Gelaran Piala Sudirman resminya berlangsung hingga 26 Mei nanti. Namun, Indonesia telah mengakhirinya dengan premature. Indonesia terhenti di perempat final setelah ditaklukkan tim dari negeri tirai bambu, Cina dengan skor 2-3. Hal tersebut menjadikan Indonesia gagal memenuhi target menuju ke semifinal. Praktis, ini merupakan prestasi terburuk tim Sudirman Indonesia sejak awal diselenggarkannya turnamen bulutangkis beregu ini. Sebelumnya, Indonesia minimal sampai pada tahap semifinal.
Skuad tim Piala Sudirman terdiri dari pemain-pemain muda. Hanya Lilyana Natsir, Tontowi Ahmad, dan Greysia Polii yang sudah terlihat lama malang melintang di turnamen-turnamen bulutangkis dunia. Sisanya pemain muda berbakat yang memang butuh lebih banyak pengalaman seperti Tommy Sugiarto, Rian Agung, dan Angga Pratama. Gita Wirjawan, selaku ketua PBSI memang sengaja memanggil pemain-pemain muda demi meneruskan regenerasi pemain yang pada tahun-tahun sebelumnya sempat terhambat. Keputusan Gita ini sangat tepat. Indonesia terlalu mengandalkan nama-nama lama seperti Sony Dwi Kuncoro atau Simon Santoso tanpa memberikan kesempatan pada pemain lain, sementar Sony dan Simon pun minim prestasi belakangan ini. Akan tetapi formulasi tersebut belum juga membawa angin segar bagi bulu tangkis tanah air. Tim ini masih belum bisa merebut Piala Sudirman sejak 24 tahun lalu. Apa yang salah?
Bulutangkis Indonesia minim sekali prestasinya beberapa tahun terakhir ini. Terakhir, prestasi terbaik Indonesia adalah memperoleh satu set medali dalam Olimpiade di Beijing tahun 2008. Emas didapat  dari ganda putra, Markis Kido dan Hendra Setiawan, perak dari Lilyana Natsir dan Nova Widianto, serta perunggu dari tunggal putri Maria Kristin. Setelah itu tak nampak prestasi besar diraih oleh pebulutangkis Indonesia. Selalu saja kalah dari Cina. Kita pasti belum lupa pada Liem Swie King, Alan Budikusuma, Susi Susanti, dan Mia Audina. Mereka semua itulah yang membawa nama Indonesia masuk dalam daftar kekuatan bulutangkis dunia. Indonesia bahkan dianggap kiblat perbulutangkisan dunia saat itu. Siapapun akan segan bila menghadapi pemain-pemain legendaris tersebut. Bahkan Cina sekalipun. Tapi mengapa sekarang atlet bulutangkis kita susah sekali merobohkan tembok Cina? Statistik mencatat sejak 1993, tim Indonesia selalu kalah dari Cina.
Kegagalan Tim Piala Sudirman cukup menjadi pukulan telak bagi PBSI (Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia). Apa yang salah dengan pembinaan atlet kita? PBSI telah menghasilkan regulasi yang bagus terkait perekrutan pemain-pemain muda. Pemain-pemain ini dituntut lebih sering turun dalam turnamen-turnamen internasional demi mendapatkan pengalaman. Hanya saja hal tersebut belum mampu mendongkrak prestasi kita. Piala Sudirman masih saja luput dari tangan. Kemampuan pemain kita belum bisa melampaui kedigdayaan Cina. Belum lagi masalah mental masing-masing pemainnya yang belum bisa mengatasi tekanan dari pertandingan-pertandingan berat. Hayom Rumbaka, tunggal putra Pelatnas pernah merasakannya. Menghadapi tunggal putra Cina yang berperingkat jauh di atasnya, Hayom takluk tak berdaya. Hal tersebut yang seharusnya juga menjadi perhatian penting para awak PBSI. Satu lagi yang tidak kalah penting adalah regenerasi. Tren positif regenerasi di bawah Gita Wirjawan harus dipertahankan dan dilaksanakan secara berkelanjutan. Sehingga tidak terjadi “generasi mandeg” ketika bulutangkis tidak ada prestasi dan tak ada penerus yang mumpuni.
Selama ini, kita hanya sekedar mencari bakat-bakat luar biasa tanpa berniat membentuknya. Artinya bahwa PBSI hanya siap menampung pemain yang sudah jadi untuk kemudian dikembangkan. PBSI seharusnya benar-benar melihat masalah ini. Pembinaan terhadap pemain potensial harus dilakukan dini. Anak-anak yang terlihat memiliki minat kuat dalam bulutangkis ditarik dan dibina sejak awal. Sehingga yang terjadi adalah pengkaderan bukan sekedar penarikan anggota. Cina sudah menerapkan pelatihan intensif sejak dari anak-anak. Dan superioritas Cina dalam dunia bulutangkis sudah tidak diragukan. Mengikuti jejak Cina yang terbukti sukses, tak ada salahnya PBSI mencoba trik tersebut. Selain itu, dengan memperbanyak turnamen bagi anak-anak di setiap tingkat masyarakat, akan semakin menunjukkan potensi anak-anak kita.
Bulutangkis merupakan olahraga kegemaran rakyat Indonesia. Bulutangkis itu harga diri bangsa Indonesia. Kekalahan tipis Indonesia atas Cina dalam Sudirman cup bisa dipandang secara positif. Patriot muda kita dapat memberikan perlawanan sengit terhadap Cina. Setitik harapan akan berawal dari sini. Dengan pembinaan dan rekruitmen yang lebih baik lagi, titik-titik itu akan semakin terang dan menyinari jagat bulutangkis kita. Smash dan maju terus bulutangkis Indonesia!
-QT\/QU-
Amelia Putri Rizqiani Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment