18 June, 2011

Aku Ingin Menulis (Lagi)


Aku sudah berusaha sejauh ini. Untukmu, sahabatku. Tapi mengapa kau masih tak juga mengerti. Mungkin yang kau tahu hanya apa yang berikan untukmu. Tapi tahukah, sahabatku. Di balik pemberianku itu tersimpan beragam usaha. Ada sejuta pengorbanan beserta setumpuk kepedulian. Tapi kenapa aku merasa, mereka lebih kau harapkan daripadaku? Mengapa mereka mendapat tempat sedalam itu dalam jiwamu? Sudah leburkah kesenduan yang dari awal aku kagumi darimu? Aku ingin tatapmu yang dulu.

Mengapa mereka datang saat ini? Itukah yang kau harapkan, sahabatku? Ketika tidak ada aku, benarkah kau sudah benamkan tawa dengan yang lain? Benarkah kau telah mengungkap bahagia di balik aku, sahabatku? Sahabatku, aku tahu. Bahkan telah jauh tahu. Bagaimana mereka meperdulikanmu selama ini. Dan aku juga telah jauh mengerti, seperti apa dirimu dengan mereka, sahabatku. Tapi maafkan aku, sahabatku. Aku tidak pernah bisa untuk mengerti antara kau dan mereka. Aku tak pernah bisa mengerti ketika aku harus tersingkir. Aku tak pernah bisa dewasa untuk memahamimu, sahabatku.

Sahabatku, kenapa kau masih juga banyak meminta. Kenapa tidak kau izinkan saja aku, barang sebentar untuk meminta. Untuk dimengerti. Untuk dimengerti atas ketidaksanggupanku. Untuk kau pahami setiap kataku. Untuk berdua saja nikmati kesenduan masing-masing. Untuk menjadi apa yang aku inginkan. Untuk menjadikanku satu sebagai yang terbaik. Aku ingin diperlakukan seperi aku memperlakukan dirimu, sahabatku.

Sahabatku, selama ini aku tak pernah mengeluh atas semua sikapmu padaku. Bahkan atas sikap yang harusnya membuatku kecewa. Tapi aku mencoba menerima saja, sahabatku. Aku terima apa yang kau berikan, baik atau buruk. Aku yakin kau juga pasti tau dan mengerti bilamana aku kecewa. Aku hanya akan mengajarimu melalui kata dan tingkah. Bukan ucap. Tapi mengapa kau tak juga mau belajar sahabatku? Jadilah apa yang aku inginkan, sahabatku. Tidakkah kau berharap menjadi sahabatku yang terindah? Satu sahabatku yang terbaik.

Sahabatku, kini pun kataku harus kehilangan arahnya. Mereka memutar-mutar saja di otakku tanpa membekas untuk sekedar menjadi bait. Sentuhlah diksi ini dengan kesenduanmu, sahabatku. Jejakkan sedikit saja keteduhanmu pada mereka. Agar mereka sedikit lebih tenang. Karena puisiku hanya ingin berjabat denganmu.

-QT\/QU-
Amelia Putri Rizqiani Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment