Namanya Nono, katanya. Padahal dek Tia, sesungguhnya.Kita lahir sudah memiliki nama. Hadiah dari orang tua yang merona bahagia. Sekaligus doa yang diuntai dari penantian ayah dan ibu. Doa yang dipertanggungjawabkab kepada Tuhan. Sungguh kewajiban dan tugas yang berat. Nama yang kamu sandang itu.
Akan tetapi nama juga punya asumsi. Asumsi yang dibentuk sendiri. Lalu siapa yang jadi korban? Pemilik nama. Kamu diantaranya. Salah satunya Nono. Laki-laki atau perempuan? Ceria atau pemurah? Itu masalah kalian yang mendeskripsikan. Dan tak ada hubungannya dengan apapun. Nono, satu-satunya. Sendiri. Dia yang begitu adanya. Bukan nama.
Nama tidak pernah melekat dengan sifat dan karakter. Tapi bagaimana kita menyebut nama, mungkin ada hubungannya dengan perbuatan. Mungkin.
-QT\/QU-
#30harimenulis #himakom

No comments:
Post a Comment