Diantara jalan yang membentang, juga ada jembatanJalan tak melulu lurus. Belok dan kelok juga ada. Tak selalu aspal. Ada beton, paving, hingga tanah. Ada jembatan yang diaspal, dibeton, dipaving, atau dibiarkan saja. Jalan dan jembatan seperti satu kesatuan. Jangan coba memisahkan.
Sesederhana jembatan yang tak banyak meminta. Sekedar menjadi perantara. Diapit antara jalan dan jalan. Dengan bentangan yang tidak seberapa. Paling sekedar lima puluh hingga seratus meter. Berbeda cerita kalau jembatan Suramadu. Lagipula aku tak mau bercerita tentang Suramadu. Itu bukan urusanku.
Jembatan. Jembatan berperan penting namun tak pernah tersadari. Bahkan seringkali diomeli karena tak sempurna. Berlubang atau bergelombang. Seharusnya bersyukur. Bukankah itu lebih baik daripada harus berpeluh mendayung. Terkadang manusia memang tak ada terimakasihnya.
Mungkin jembatan sama seperti sahabat. Sama nasibnya. Penting, tak disadari, diomeli. Penting. Menghubungkan kamu yang terjebak antara. Tak pernah butuh terimakasih. Selalu saja disitu dengan kegilaannya. Lewati saja seenaknya. Jalan dan jembatan yang satu kesatuan.
Jembatan bersahabat dengan jalan. Kamu bersahabat dengan aku. Adil kan?-QT\/QU-
#30harimenulis #himakom

No comments:
Post a Comment