Aku benci kamu, kamu, kamu, dan kamu. Aku membenci semua orang.Setiap orang ada dengan sifatnya masing-masing. Baik atau buruk. Tapi tunggu dulu. Siapa yang berhak menentukan baik atau buruk? Jawabannya tidak ada. Bukankah memang tidak ada ukuran sifat baik dan buruk? Batas antara baik dan buruk yang paling jelas hanya norma dan nilai. Akan tetapi bukankah norma dan nilai juga kita bentuk sendiri? Apakah kita merasa yang paling benar sehingga dapat dengan mudah membatasi?
Bagaimana kalau ku katakan saja bahwa semua orang itu baik. Hanya saja, kebaikan-kebaikan itu seringnya tidak cocok dengan keinginan kita. Kenapa sih kita banyak maunya? Itu salahnya ekspektasi. Aku bilang, jangan pakai perasaan bila berhubungan dengan orang lain. Apa pentingnya perasaan kita sampai harus diagung-agungkan dan diprioritaskan? Tak mau terluka dan sakit hati? Sederhana. Jangan berekspektasi.
Lebih mudah merubah sudut pandang daripada merubah orang lain.
Semua orang itu baik. Namun tak semua orang layak mendapat yang baik-baik. Salah satunya kita. Ketika kita mendapat perlakukan buruk (menurut kita) mungkin saja itu merupakan sebuah pijakan untuk sesuatu yang lebih baik. Sederhana. Pencuri melakukan hal buruk. Tapi bukankah itu untuk memenuhi kebutuhan diri atau yang lain? Baik bukan?
Aku membenci semua orang. Di saat-saat tertentu. Saat aku tak merasa cocok dengan sifat orang lain. Ada waktu yang seperti itu. Karena aku juga terkadang mendapati hal buruk karena aku berekspektasi. Karena aku merupakan pijakan untuk yang lebih baik lagi. Karena tidak semua sifat sesuai keinginanku. Aku benci kalau kau tak peduli. Aku benci kalau kamu terlalu banyak bicara. Aku benci kalau dia sok tahu. Tapi aku suka kau yang teguh. Aku suka kamu yang banyak mendengar dan peka. Aku suka dia yang banyak membantu.
Sederhana. Tinggal banyak memaklumi. Tinggal banyak menyesuaikan. Dan akhirnya aku menyukai semua orang. Orang baik.
-QT\/QU-

No comments:
Post a Comment