Bahkan Bu Pon pun minta maaf.Apagi yang lebih seru selain makan bersama teman-teman? Dimanapun makannya yang penting ramai-ramai. Tambah satu lagi, makan murah. Warung makan Bu Pon favoritnya. Selain makanannya yang enak dan murah, konsep prasmanan memuaskan porsi makan aku dan teman-teman yang memang buas. Hari ini pertama kali aku bersama teman lain – Bimo, Foke, Rizky – makan di sana semenjak semester 4 dimulai. Ada seminggu Bu Pon tutup, dan itu cukup mengkhawatirkan.
Makanan di Bu Pon harganya naik. Ini yang cukup membuat was-was. Bu Pon menyatakan bahwa pemicunya adalah harga-harga yang memang sedang naik. Ayam, telur, tongkol, bumbu dapur, semuanya naik. Bu Pon memang terkenal karena harganya yang lebih murah daripada di warung makan lain. Dan sebenarnya kenaikan tersebut tidak terlalu signifikan. Hanya sekitar Rp 500-1000 saja. Masih lebih murah dibanding yang lain. Tetap Bu Pon minta maaf.
Bu Pon mengurai cerita. Harga sewa warung yang ditempatinya naik. Dari yang awalnya 10 juta/tahun, naik menjadi 12,5 juta/tahun. Padahal Bu Pon hanya aktif berjualan maksimal delapan bulan, empat bulan sisanya libur mahasiswa dan puasa. Keinginan untuk pindah, ada. Tapi keraguannya lebih besar. Pelanggan-pelanggan lain sudah terlanjur tahu warung Bu Pon yang sekarang. Jika nanti pindah, belum tentu pelanggannya masih sebanyak sekarang, belum tentu tempatnya lebih strategis. Sehingga harga makanannya ikut naik. Dan Bu Pon minta maaf.
Kenaikan lima ratus atau seribu perak itu, tidak terlalu berdampak banyak untuk aku pribadi. Toh, memang cukup berdasar dan beralasan. Mendengar cerita Bu Pon, aku jadi tahu. Untuk orang-orang selugu Bu Pon, berjualan bukan hanya tentang untung rugi, tapi saling berbagi dan menghargai. Bukan hanya pembeli yang susah bila harga naik, bahkan untuk penjual pun menaikkan harga itu benar-benar keputusan yang sulit. Mungkin tak sampai hati rasanya.
Minta maafnya Bu Pon benar-benar menohok. Bukankah sekarusnya aku, kami, kita semua, saling menghargai dan mengerti? Aku yakin Bu Pon punya keluarga yang ditanggung. Dengan untung yang tidak seberapa, dapatkah terpenuhi kebutuhannya? Apalagi menurut Bu Pon, hari pertama beliau berjualan, masih sepi pelanggan. Mungkin karena terlalu lama tutup.
Bu Pon menawarkan tambah nasi, dan tambah es batu. Gratis.
Bu Pon tak perlu minta maaf.
-QT\/QU-

No comments:
Post a Comment