Percakapan I
Wali murid : Kuliah dimana sekarang?
Saya : Di Unsoed Purwokerto
Wali murid : Jauh ya. Ambil apa?
Saya : Rezekinya disana. Ambil komunikasi
Wali murid : Dulu IPA kan? kok tidak sayang IPA-nya.
Saya : (senyum saja)
Percakapan II
A : Belajar integral itu besok buat apa? kalau jadi dokter juga gak perlu ngitung gitu kan?
B : Paling tidak buat ujian besok.
Sederhana saja memang percakapannya. Percakapan yang wajar juga untuk orang lain yang seusia saya. Tapi ada sesuatu yang cukup sentimental. Bagi saya terutama. Pada kalimat "kok tidak sayang IPA-nya.". Ah, apa ilmu harus dipandang serendah itu? Apa memang ilmu dan belajar itu ada yang sia-sia?
Belajar itu untuk masa depan. Dan ilmu itu sepanjang masa. Meski apa yang akan saya jalani mendatang bertentangan dengan masa lalu saya, apa itu juga mengurangi esensial ilmu saya sebelumnya? Saya rasa tidak. Ilmu itu luas. Teramat luas untuk dikotak-kotakkan. Antara ilmu alam atau ilmu sosial. Ilmu itu satu, ilmu kehidupan. Baik ilmu alam, ilmu sosial, hingga ilmu agama. Betapa munafiknya jika kita hanya membuka diri pada satu ilmu saja. Tidak ada ilmu yang tak berguna.
Cukuplah ilmu dipandang sebagai sarana memperoleh cita-cita. Buat saya prestasi dan terwujudnya cita-cita itu hanya sebagian kecil dari beribu manfaat ilmu. Menilik dari apa yang saya alami dan rasakan, apa ilmu komunikasi itu bertentangan dengan ilmu alam? Saya rasa ilmu komunikasi itu amatlah luas. Sebanding dengan ilmu yang dipelajari.
Pada dasarnya aplikasi dari semua ilmu adalah hidup bermasyarakat dan beragama. Toh, semakin banyak ilmu yang kita pelajari, akan semakin kita sadari bahwa kita tak tahu apa-apa. Dan setiap pertanyaan selalu menghadirkan pertanyaan baru.
Marilah kita mulai membuka diri pada semua bentuk dan jenis ilmu. Tak perlulah dikotak-kotakkan. Dan apapun yang kita pelajari pasti ada manfaatnya. Bukan sekarang memang. Tapi pasti nanti.
-QT\/QU-
No comments:
Post a Comment