Mengutip perkataan sahabat saya, bahwa yang sejati itu pasti akan kembali. Jadi ketika kita dihadapkan pada kenyataan meninggalkan atau ditinggalkan, tetaplah percaya. Jika memang itu sebuah kesejatian, kelak akan kembali. Pada waktu dan saat yang tepat. Tapi jika memang tidak kembali, itu artinya apa yang kau percayai itu bukan yang sejati. Toh, pada kenyataannya kehilangan itu dipeluk Tuhan. Tuhan tidak mengizinkan kita -yang kehilangan- untuk menjaga seseorang yang lebih baik dengan orang lain
.
Tapi bagaimana sebenarnya sejati itu diartikan? Apa memang benar sejati itu pasti kembali. Kalau kenyataannya apa yang kita yakini sejati tak juga kembali, bagaimana dengan itu?
Sejati itu tergantung bagaimana kita mendefinisikan. Buat saya sejati itu bisa diusahakan. Sederhananya, jika kita memang benar-benar yakin apa yang kita jalani sebuah kesejatiaan, kita akan berusaha mempertahankan. Dan kala kehilangan kita akan berusaha mengembalikan. Itulah sebenarnya makna sejati. Sehingga sejati adalah sejauh makna kita meyakini.
Terima kasih untuk sahabat saya, sejati itu memang ada.
-QT\/QU-
.
Tapi bagaimana sebenarnya sejati itu diartikan? Apa memang benar sejati itu pasti kembali. Kalau kenyataannya apa yang kita yakini sejati tak juga kembali, bagaimana dengan itu?
Sejati itu tergantung bagaimana kita mendefinisikan. Buat saya sejati itu bisa diusahakan. Sederhananya, jika kita memang benar-benar yakin apa yang kita jalani sebuah kesejatiaan, kita akan berusaha mempertahankan. Dan kala kehilangan kita akan berusaha mengembalikan. Itulah sebenarnya makna sejati. Sehingga sejati adalah sejauh makna kita meyakini.
Terima kasih untuk sahabat saya, sejati itu memang ada.
-QT\/QU-
No comments:
Post a Comment