18 May, 2011

Menyerah


Kata menyerah seharusnya tidak diartikan dalam ketidakberdayaan. Tapi sesungguhnya menyerah itu akhir dari sebuah usaha. Usaha yang pada akhirnya tak juga berikan apa-apa. Tapi benarkah usaha itu pantas diakhiri? Setelah apa yang diusahakan tiada hasilnya? Pantaskah itu sebagai alasan untuk berhenti berusaha?

Aku sudah pernah berusaha. Usaha yang tak kenal masa. Tapi kenyataannya setiap usaha juga tidak dipandang sebagai sebuah pengorbanan. Mungkin bukan usahanya yang salah. Hanya saja -masih mungkin- aku yang terlalu berusaha. Tapi apa berusaha itu salah? Apa usahaku merugikan Anda? Apa aku jadi terlalu memaksa? Dan karena kenyataan pun tidak berpihak padaku, aku mencoba menerima. Ada rahasia di balik semuanya. Itu pasti.

Aku jadi merasa semakin sendiri saja. Tidak dengan usaha dan peduliku. Tidak dengan diksi dan rimaku. Tidak dengan rintik dan silauku. Tapi aku percaya, masa lalu masih akan tetap terkenang. Dia tetap dan tak berubah. Aku masih punya waktu dan kesempatan. Untuk bercakap dan berbisik di masa lalu. Yang akan tetap terkenang. Akan tetap tertinggal.

Hatiku semakin hampa saja. Jadi semakin sulit dimengerti. Oleh aku sekalipun. Mungkin ini masalah waktu saja. Tapi waktu terlalu bisu untuk digenggam. Dan hati terlalu putih untuk dipaksakan. Sehingga apa yang terjadi tak juga meninggalkan kesan. Selain kesedihan ini. Kesedihan yang terlalu mendalam.
Dan aku memang benci perubahan.

-QT\/QU-
Amelia Putri Rizqiani Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment